Jumat, 06 Desember 2013

KATA INDAH INI, DARIMU, SAYANG

Dear you, di cinta..

aku berhenti membacamu. Bukan soal kata ganti orang pertama atau kedua,
yang kucari adalah subjek abjad cinta yang berfungsi sebagai kata kerja


Di kata cinta, 

aku ingin berhenti membacamu
Lalu, bertanya, bagaimana menulis kata cinta? 
aku hanya mampu mengeja hurufnya,
selebihnya adalah rasa yang diam dari kedalamannya





 – Sajak indah ini, kiriman dari kekasih tercinta –

Kamis, 05 Desember 2013

Malam Baik-Mu



Nyatalah malam ini. Malam dimana – yang kata orang – tertumpuk kebaikan.


Malam yang selalu punya cara tersendiri menyentuh kalbuku.  
Seolah, para malaikat hadir dalam setiap jengkal langkahku. Pada tarikan pun hempus nafas dinginku.

Selalu riang menyambutnya. Selayak ketika kutanya pada ukhti yang jauh di sana, yang untuk kita saling mengingatkan "sudahkah kamu bermunajat hari ini?"

Tak luput ku cakupkan rapal paling hening saat tudung melekat pada tubuh. 
Kusematkan doa pada ayat-ayatMu untuk para tetuaku yg sudah dulu menungguku dalam alam lain.

Satu asaku, semoga ganjaran ini selalu penuh untuk kubawa ke Mahsyar nanti. Aamiin.


Rabu, 06 November 2013

ILMU KITA, ILMU HIDUP JUGA

"Berapa banyak malam yg kau lewati dengan menelaah ilmu pengetahuan, membaca buku atau berdiskusi, dan kamu selalu berusaha terjaga? Atau tidak tahu apa yang memotivasimu untuk bangkit" cuplikan pada bukunya Imam Al-Ghazali yang berjudul 14 jalan mencintai Allah.
***
Seketika aku melarung berbagai hal yang menyapaku pada berpekan ini. Masih ingat betul bagaimana aku menghabiskan tiga-empat jamku dalam satu hari untuk bercengkerama dengan sedikit buku-bukuku dan berbagai tulisan dalam dunia maya. Tak ketinggalan juga dengan tombol-tombol canggih hasil modernisasi zaman, bukan lagi pena memang.
Mendapati banyak ilmu dalam setiap indra mataku. Dengan sedikit polesan hiperbolik sudah cukup membuat diri ini senang. Senang menikmati karya sendiri. Cukup pecundang bukan tanpa membandingkan dengan yang lain?
Tak hanya itu, niat awal mencari ilmu sebenarnya lebih kearah ingin mendapat penghormatan, penghargaan dan tak jarang pencitraan diri. Pada mata kasarku, banyak bertebaran mereka yang mungkin pintar dari yang lain, yang selalu berbangga diri ketika mendapat IP paling baik. Menyunggingkan senyum, lantas mendongak tanpa sapa, kemudian melenggang sebab bangga terhadap pencapaiannya.
Aku ingin bertanya, apa semua pencapaian tersebut bisa bersifat mutlak?
Yang ingin aku kutip, sebenarnya tak ada yang salah jika kita mampu memberikan reward pada diri sendiri atas secuil ilmu dan pengamalannya. Bukankah pada hakikatnya, segala ilmu itu harus diamalkan jika ingin mendapat berkah-Nya? Daripada yang menimbun ilmu tanpa mengaplikasikan pada kawan-kawan lain yang butuh? Sejatinya, ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang berbanding lurus dengan pengamalan sepadan ilmu tersebut.
Di sinipun, aku masih seperti manusia bodoh. Berbagai ilmu yang kumiliki, belum sepenuhnya bisa aku terapkan pada kehidupanku. Hanya mampu memohon kepada Tuhan semesta raya agar segala pandang burukku segera diluruskan. Aku percaya pada dahsyatnya kekuatan doa ketika kening dan sajadah sudah mulai menyatu malam ini. Juga berbagai lantunan ayat.
***
"Meski selama seratus tahun kamu duduk membaca beribu judul buku, namun bila kandungan ilmu tidak kamu amalkan, tentu itu tidak mengantarkanmu kepada kebahagiaan dan rahmat Ilahi". Imam Al-Ghazali~


Senin, 04 November 2013

Bukankah Ikhlas dan Sabar itu Sebaik-baiknya Rasa?

Pagi selalu punya cara sendiri demi membagi hangatnya matahari kepada tubuh-tubuh insan Ilahi.
Kemudian kegundahan yang tak pernah luput dari akal dan rasa kita, memaksa kita biasanya untuk menyalahkan keadaan, melempar segala tanya kepada Empunya hidup, klimaks terakhirnya sensor ego dalam diri yang tak bisa terkendali dengan baik.
Kedukaan tentang hidup masing-masing yang seakan membumi-leyapkan rasa bahagia. Rentetan ujian bagai aral melintang yang memaksa tuk kita lewati.
Tanpa tahu, bawasanya nikmat dan kuasa dari sang Mahakuasa selalu kuat melingkupi kita. Saya rasa kita selalu mahfum dengan kata ikhlas dan syukur. Tapi, jelasnya tanpa tahu dua kata itu kapan tepat untuk digunakan. Bukan kapan lagi, harusnya jangan membiarkan keikhlasan tanggal selama jasad masih melekat pada tubuh. Sejatinya ikhlas selalu membawa kita pada peranan lurus hidup. Tuhanmu, Tuhanku dan Tuhan kita terus berbaik menebarkan segala indah pada dunia yang fana ini. Bagaimana sebaik-baiknya dari kita mampu memberai perihal yang membawa keselamatan pada dunia pun kehidupan lain atau malah memburukkan segalanya. Pada inilah intisari keimanan kita berperan. Tentang keikhlasan yg sudah saya singgung sedikit di atas. Pula masalah sabar. Orang yg pandai bersabar juga ikhlas adalah doa-doa yg melangit. Itulah sebait kata dari seorang Ukhty cantik di jauh sana. Lantas bukan berarti pula kita harus memasrahkan diri. Memaku tanpa tindakan nyata. Utamanya, selamatkan jiwa untuk jadi pemenang pada diri sendiri.