Senin, 30 September 2013

TENTANG KALIAN YANG MELENGKAPIKU



Entah bahasa yang bagaimana lagi yang harus aku ungkap dalam mengartikan sebuah kerinduan dengan keluarga besarku. Bapak, ibu dan adikku. Aku menulis keluarga besar lantas bukan berupa keluarga yang kata banyak orang berjumlah banyak. Tapi dari mereka aku memiliki banyak hal besar yang setiap waktu aku syukuri sebagai nikmat yang telah sang raja penguasa bumi beri untuk selalu ku jaga. Memiliki mereka merupakan takdir kehidupan terindah di hidupku. Ketika sedang dalam balutan kasih keluargaku ini, aku merasa semuanya begitu permata.
Dari bapak, aku belajar tentang kesederhanaan. Bagaimana beliau mengajarkanku arti sebuah kata sederhana yang setiap diucap beliau, batinku merasa direngkuh olehnya. Begitu hangat. Pernah satu waktu, beliau berucap "Ini yang kita punya, jangan suka iri terhadap segala apa pun di luar sana. Indahkan hatimu untuk tetap dalam keadaan syukur dan sederhana". Masya Allah, nyes masuk ke hatiku. Kemudian, beliau yang juga anti berbicara aib orang lain dalam keadaan ramai. Sekali masa, ibu yang tengah asyik bincang bersama teman karibnya. Ya, seorang ibu rumah tangga pula. Mereka sedang berbisik lembut membicarakan seseorang. Dengan ketegasan bapak, ibu langsung disuruh beranjak ke dalam. Keadaan berpihak pada bapak. Setelahnya ibu tak pernah mengulang seperti demikian lagi. Aku mencintai segala bentuk jiwa yang bapak punya.
Ini orang ke dua terindah di dunia ku. Iya, ibuku. Cinta ku pada bapak tak kalah hebat dengan cintaku untuk ibu. Cinta pada mereka memiliki takaran yang pas pada hatiku. Setiap aku pulang ke rumah setelah penat belajar di tanah rantau, ibu suka sekali mengajakku ke kamar tidurku. Tanpa kekata perintah, seolah aku mengerti bahasa tubuh ibu yang mungkin jikalau berbicara, berkata demikian "ayo ceritakan pada ibu sewaktu di sana". Dengan lancar semua cerita mengalir dalam suaraku sela rasa lelahku. Dan bisa selalu dipastikan tanpa dugaan, keesokan harinya ibu akan memasak makanan kesukaanku. Kata ibu "memasak itu juga termasuk belajar, bukan hanya belajar formal juga yang harus kamu dapat, Nak. Seindah apapun kamu kelak dipekerjaanmu, memasak itu hal wajib untuk suamiku". Itu pepatah yang selalu aku ikat dalam-dalam pada fikiranku. Dari sini aku selalu senang memasak, meski amatir.
Cerita terakhir yang tak boleh tertinggal pada tulisanku ini, adik perempuanku. Yang sekarang sudah berada di kelas 3 SMP. Dia sudah tak anak kecil lagi untuk sekedar mengerti arti hidupnya. Aku dan adikku memiliki sifat yang bisa dibilang bertolak belakang. Perihal di bawah ini bukan aku yang menyimpulkan, tapi berdasar pada kata orang-orang sekitar kami. Bahwa aku begitu lembut, pendiam dan tak banyak tingkah. Beda dengan adikku, dia cenderung tomboy, cuek dan batu. Batu maksudnya dia begitu keras, lebih batu dari aku. Iya begitulah anak-anak dari bapak ibukku. Satu hal yang selalu aku ingat, adikku tak pernah menangis dalam kesedihan. Entah apa yang menjadi sebabnya. Dia anak yang cukup tangguh demi menghadapi hidupnya. Itulah sedikit kisah warna keluargaku.
Sedikit munajatku, Bapak Ibu sehat terus ya! Sampai aku sukses nanti. Adik harus tetap menjadi adik yang kuat, terus belajar seolah selalu merasa kurang ilmu. Untuk Bapak Ibu, Dik.

Rembang, 2013.


Sepotong Masa laluku

Tak pernah ada yang salah dengan sebuah masa, sekalipun menyakitkan pun mengindahkan.
1.    Aku pernah dicium anak lelaki sewaktu kelas 1 SD, kemudian aku menangis. Dan oleh sebab yang tak ku tau, dia suka kepadaku hingga kelas 2 SMP.
2.   Pernah sekali saat aku belajar bersepeda di jalanan, saya jatuh di sawah. Sepeda baruku yang berwarna biru kotor dan aku menangis.
3.   Semasa kecil dulu, aku sering sekali dipanggil dengan sebutan 'CAME'. "Came sudah mandi ya? Rambutnya bagus". Hanya karena aku sering potong selayak tokoh Jepang yang mungkin namanya CAME. Rambut lurus dengan poni tengah.
4.   Dibuat menangis oleh teman SD sekaligus tetangga sendiri karena tas saya yang mirip koper, dia tenteng keliling sekolah.
5.      Sempat nangis saat kerudung kesayanganku diambil oleh sahabat sendiri. Iya kerudung kesayangan.
6.   Sering merajuk dan menangis saat bapak memintaku mengaji tiap minggu pagi jam 6. Alhasil aku ketinggalan cartoon favoritku; Chibi Maruko Chan.
7.   Ini daya ingatku yang kuat sekali. Iya, aku yang tiap Rabu selalu bolos sekolah Madrasah karena gurunya yang galak. Bahkan aku masih ingat harinya. Hehe.
8.    Pernah menindas teman baru sewaktu kelas 2 SD. Aku berlagak menjadi ketua bersama satu genk ku bangga sekali. Konyol bukan?
9.   Aku mempunyai empat luka berbekas pada tubuhku. Luka pertama di siku kiri karena terjatuh dari tangga belakang rumah, aku menangis karena robeknya mengeluarkan banyak darah. Dan paginya aku tak ikut lomba gegara sakitnya minta ampun. Sembuh setelah tiga bulan kemudian. Penyebab luka kedua karena terjatuh saat naik sepeda pada hari Jumat siang. Persis saat dimulai Jumatan. Aku malah bermain-main tanpa ijin bapak ibuku. Luka itu tepat berada pada pergelangan tangan kanan. Manis sekali bentuknya. Luka ketiga dan terakhir sebab aku jatuh dari motor saat dibonceng teman. Di pelipis mataku dan di dengkul sebelah kanan lukanya. Masuk puskesmas, padahal paginya harus ujian. Oh!
10. Aku dibuat jatuh cinta pada lelaki yang setiap magrib saya temui di Masjid dekat rumah. Dan.. Dia berhasil aku pacari dan aku putus. Cinta pertama. Bandel sekali. Pft.
11. Sebegitu menyesalnya sewaktu kelas 6 SD ketika aku mau diajak pergi ke rumah bude, tapi aku malah asyik bermain dengan temanku. Menyesal sampai tak mau makan.
12. Pernah loncat dari tangga ke sepuluh di sekolah Madrasah akibat ajaran teman cewek.
13.Tidak naik kelas sekolah Madrasah akibat 3 bulan tak pernah masuk saat siku kiri luka. Semua keteteram dan aku tetap g diperbolehkan keluar sekolah oleh bapak.
14. Sempat mendengar suara aneh ketika dapat telfon dari kekasih. Itu pertama kalinya aku mendengar suara mistis.
15.Sengaja kabur dan bolos sekolah sewaktu SMA hanya karena ingin melihat lomba yang hari sebelumnya saya ikut tapi tidak lolos. Alhasil, paginya dijemur di lapangan basket, berjam-jam. Badung sekali, dulu.
16.SD dulu, aku sering ikut lomba sinopsis. Setiap sore latihan dengan merangkum 1 buku bacaan dengan sekali baca. Menulis kembali dalam 5 lembar buku folio. Coba sekarang, mesti males sekali.
17.Seingatku saat aku umur 7 tahun, aku pernah merengek menangis pada ibu dengan berkata "Ibu, Mas Tulus jahat. Setiap ketemu aku dia selalu menggendongku. Mengejar aku ketika aku berlari". Dengan pelan ibu mengatakan lembut "Nak, dia sayang sama kamu karena dia tak memiliki adik cewek". Sekecil itu, aku belum memahami antara sayangnya dan rasa takutku.
18. Surprice kecil, aku dibelikan sepasang pakaian oleh seseorang dengan bawahan rok, lengkap dengan kerudung. Dan harus saat itu juga dipakai dihadapannya. Kemudian, dia terperanjat melihatku dan berkata "kamu cantik". Bahagia sekali, pertama kali memiliki rok. Hehe.
19. Setiap tarwih, aku selalu ingin bertempat di tengah. Aku benci pinggir.
20. Seharian menangis gegara baru di putus lelaki. Kemudian adikku dengan lantang berkata "cewek kok cengeng, sini kasih nomornya biar aku marahin!". Adikku memang sekeras itu, tomboy.
21.Aku memiliki sahabat sedari kecil. Tapi sekarang tak kutemukan jejaknya. Karena suatu alasan. Sampai sekarang pun aku masih sering menangis karena kehilangan dia.
22. Di kosan ku yang petama, mbak-mbak kosan selalu bilang begini sama aku "Dek, ngomongnya pelan dikit ya pake spasi jangan kayak sepur". Pft sekali. Ini mah bawaan.
23. Aku sedikit lupa, ada teman BBM yang pernah bilang begini "Mbak, giginya lucu taring semua. Aku jadiin pacar ya?". Tidak masuk akal.
24.  Pernah iseng punya kenalan orang jauh. Berkat dia, hanya satu club sepak bola yang kutau detilnya hingga sekarang; Liverpool saja. Iya, satu.
25. Ada orang yang suka sekali merusak ponselnya tiap kali bertengkar denganku. Sampai sekarang, mungkin.
26. Lima atau tiga bulan yang lalu aku pernah jingkrak-jingkrak sendiri saat berhasil di mention idola penulisku.
27.  Karena seseorang aku masih menyukai Bon Jovi sampai saat ini.
28. Lebaran kemarin sewaktu pulang kampung, dan saat suatu siang aku bersepeda bersama kerabat kecilku. Tiba-tiba ia tertabrak motor dari belakang, aku kaget hampir nangis tak ketulungan. Tapi dia hanya diam dan kemudian pipis di celana. Tanpa luka sedikitpun.
Itu sedikit masaku yang tak luput ku lupakan. Sebenarnya masih begitu banyak lagi. Sekedar mengecheck sistem memori otakku.

Tuban, 28 Spetember 2013 22:22 WIB.


Selayak Takdir Tak Kusangka



Aku menikmati saat seperti ini, bahkan ketika detik berlalu sekalipun aku sungguh tak bergeming dengan keadaanku sekarang. Duduk di dalam bus, menikmati kiri-kanan pemandangan agung dipadu dengan pantai sisi utara. Akhirnya aku menemukan fakta bagus-pekerjaan memeluk tas ransel dengan mata yang terjaga sebab aku merasa kantuk mengepung dalam mata akibat minum obat penahan mabuk yang tak luput ku minum-cukup membuatku nyaman. Pada baris nomor dua tak cukup silau untuk aku membaca sebaris kalimat yang terpukau menatapku pada kaca depan. "Waktu yang menjawab". Tepat di atasnya gambar seorang perempuan tersenyum. Getir getar tubuhku. Seindah ini rahasia Tuhan demi menguatkan aku. Bahkan dalam keadaan yang meyangkapun aku tak pernah.

            Sepanjang jalan, Rembang 26 September 2013, 15:07 WIB



Jumat, 27 September 2013

Anonymous

Edelweise
Dalam relung hatiku, kupanjatkan doa kepadaMu. Sebuah doa yang penuh harapan. Aku seorang wanita biasa, yang selalu menunggu cahaya dalam gelap, berharap dekapan yang kan melindungiku dari kerasnya hidup. Hari ini, tepat di hari ulang tahunku, aku memilihmu, meninggalkan semuanya, kebebasanku dulu, rasa senangku dulu, dan Adi. Hidupku kuserahkan kepadamu, seseorang yang sangat asing bagiku, seorang yang baru aku kenal. Seorang yang telah meluluhkan hatiku, bukan karena dia kaya, atau tampan, atau perhatian, cukup satu hal yang mewakili semua itu tatapan matanya. Saat dia melihatku, aku merasa tenang, sebuah rasa tanggung jawab yang sangat besar, sebuah masa depan. Aku sudah berjanji dalam hidupku, saat kutemukan seseorang yang aku cintai, saat terakhir itu pula aku serahkan seluruh hidupku.
Aku menemukannya, disaat aku dalam kebimbangan, mencari jati diri, mencari sebuah arti hidup. Dia datang kepadaku bersama sebuah kotak berwarna hitam berbalutkan pita putih. Kotak hitam berisi tiga harapan. Sebuah buku berwarna abu-abu, rangakaian bunga Edelweise dan selembar kertas. Dia bilang kepadaku, “buku ini, akan selalu menemanimu, akan ada lembaran baru disetiap lembarnya, membuatmu selalu optimis menatap hari esok dengan hal-hal yang lebih baik.” Dan “banyak bunga indah di luar sana, tapi aku memilih ini, kata orang bunga ini kuat dan mampu bertahan dalam kondisi yang sulit”. Lidah ini terasa kaku, tak mampu berbuat buat banyak, hanya tangis yang mewakili semua ini. Tangis ini semakin menjadi saat kubaca kertas darimu.

“Aku tidak mencintaimu, karena aku tidak tahu apa itu cinta”,
“Aku hanya mengikuti sebuah petunjuk yang aku temukan”,
“Sebuah bintang yang paling terang diantara semua bintang”,
“Aku fikir kamu sengaja menggantungkannya di langit”,
“Sekarang aku datang untuk mengembalikannya”.

Apakah ini tangis bahagia? Tak banyak kata saat kau melihat air mata ini. Kamu dekap aku, baru kali ini, aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kamu itu siapa? Siapa yang mengirimu? Apakah kamu malaikat? Jutaan pertanyaan selalu tersirat jika ku melihatmu. Aku tak kuasa sayang, kamu benar-benar sudah masuk kedalam relung hati ini. Aku menemukanmu. Akan aku tuliskan lembaran hidupku, hidup kita, kepadamu Anonymous. Seseorang yang tak pernah aku kenal, sesorang yang sangat asing, Anonymous.