Kamis, 31 Oktober 2013

Apa kabar, Sahabat?


27 Oktober 2013.
Semoga kamu membacanya. Catatan ini aku buat untuk memenuhi urusan hatiku yang sulit mengurai segala bahasa yang hampir satu tahun aku rapikan dalam jiwa. Entah dari ruh bagian yang mendesakku untuk menulis ini. Aku berharap baik di ujung nanti.
Satu minggu yang lalu, ada notification dari twitter perihal kamu yang me-follow aku. Harus pada rasa yang bagaimana untuk kutampakkan; kebahagiaan karena kamu yang dengan diam masih memiliki rasa yang sama seperti dulu-menyayangiku. Ataukah api-api kekesalan yang pantas mewakilkan pada kejadian ini?
Tanpa fikir panjang, kamu sudah masuk pada barisan "following" ku. Memang, sudah lama sekali aku tahu tentang akun twittermu, tapi aku tak pernah berani sedikit pun berinteraksi denganmu. Hanya pada waktu yang tak pernah kupinta, fikirku berotasi tentang kamu. Berinteraksi satu arah. Telepatiku tak cukup pintar untuk menerka jejak fikirmu di sana. Apakah yang kurasa sama seperti yang kau rasa? Atau justru kau malah membelakangi semua tentangku. Entahlah.
Bukan hal yang sulit, jika pekerjaan memikirkanmu acapkali kumerasa tertusuk, duka dan antah brantah. Aku sering merasa kalah pada diri sendiri tersebab perbedaan kita yang tak dapat kubebaskan lantas memaku dalam kekaratan yang pilu. Logika yang sering kutemui di luar sana, bahwa perbedaan selalu menjadi pasangan yang tanpa syarat untuk sebuah kekurangan. Bahkan, aku pun sering memakai kekata itu kepada siapapun yang kiranya membutuhkan. Bodohnya diri yang tak bisa menyatu dengan kekata tersebut. Banyak sekali alasan klise mengapa kita sekarang tak lagi bergandeng tangan, tak lagi membentuk baris-baris senyum polos kita, dan iya kita tak lagi bersama.
Memang benar, egoku begitu batu jika kuharus berbicara tentangmu. Dan harus kau ingat, saat aku sudah mulai bersahabat dengan tulisan, kewarasanku jangan sekali-kali kau ragukan. Sampai pada titik kebahagiaan pun kekecewaan, aku tak pernah berdusta demi huhuf-huruf ini. Sini, cermatilah dengan sepenuh rasa!
Masa-masa dimana rasa yang tak pernah kurasakan dulu, kini sudah dapat kueja dengan sangat baik. Bagaimana kau berperan sebagai manusia yang multifungsi untuk diriku, menjadi teman kencan yang asik walau hanya berbincang ringan di warung Mie Ayam Bang Niam, menjadi kakak yang jelas peranannya; ngemong aku disaat yang tanpa kupinta kuberulah semisal anak kecil. Perihal kau melindungi diriku saat mabuk di perjalanan Semarang-Rembang.
"Mbak aku mabuk. Itu kena baju belakang kamu. Maaf ya?" Dengan pelan dan rasa takut aku mengucap demikian.
"Udah ga apa-apa. Sini aku bantu bersihin. Antimo ini minum dulu aja" sahutnya seraya membantu diriku membersihkan sisa muntahku.
Jelas nyatanya bukan?
Tak hanya itu, kita sering bercengkerama di kasur empukku hanya sekedar melewatkan obrolan basa-basi masalah sekolah. Yang selalu diselingi kamu dengan pengetahuan intelektual yang berada di tingkat atasku. Bahkan tak jarang, sering kupinta kamu menulis puisi-puisi indah kemudian kutagih lantas kualih menjadi milikku bertumpuk puisimu itu hanya karena aku suka karyamu.
Aku yakin, kamu orang pertama yang mengetahui rahasia gilaku masalah cowok yang pertama kali kukenal lantas kucinta. Berkali kusewa pendengaranmu hanya sekedar demi mendengarkan ocehan anak smp sepertiku. Kuharap kamu tak bosan ketika itu, Mbak. Dan masih banyak rasa indah yang kita cipta dulu, bukan?
Tentang segala kenang, aku tak peduli apa kamu masih dengan sudi mengingatnya atau malah kamu tanggalkan begitu saja. Ini tentang aku, tentang tubuh yang masih sama seperti dulu; menyayangimu tanpa kurang, merindukanmu hingga tak berbatas. Lalu menangis sesal ketika bertumpuk pertanyaan dari banyak manusia yang bertanya hal kamu terhadapku. Tiap kali aku bertemu di jalan, kamu pun aku enggan sekali menyapa. Waktu benar-benar tak mau kalah untuk menertawakanku atas segala ketidakberanian demi sekedar berbicara padamu.


Rabu, 16 Oktober 2013

HATIKU SELEMBAR DAUN


Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senatiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kusapu tamanmu setiap pagi.




SAPARDI DJOKO DAMONO

YANG FANA ADALAH WAKTU




Yang fana adalah waktu
Kita abadi; memungut detik demi detik, merangkai seperti bunga
Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa

"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu

Kita abadi.



SAPARDI DJOKO DAMONO

Selasa, 15 Oktober 2013

Separuh Rasa yang Tak Sama

Seketika waktu milikku. Hari ini selepas membuka mata dan mengedipkan untuk kali awal, aku mendapati relung kalbuku yang berwarna abu-abu. Tidak hitam pula tak putih. Bagian warna ini yang tak kusuka. Fikirku, warna ini bersifat separuh dan aku tak menyukainya.
Tentang suatu kebagiaanku. Satu keadaan yang datang tak lama ini. Iya, aku nyaris mencapai klimaks terbaik dari rasa bahagiaku selama ini. Mungkin jika perlu menggunakan pengandaian, istilah ini cukup pas. Mungkin. "Bagai mendapat segunung harta emas". Yang jelas aku begitu bahagia. Sebahagia-apapun. Saat ini.
Ini sisi lain dari tubuhku. Pada detik kemudian, rasa indah yang begitu membahagiakan tersebut berubah rasa menjadi duka. Tepatnya, aku memiliki separuh rasa yang tak sama dalam satu waktu. Rasa yang satu tingkat di bawah rasa bahagia. Kehangatan seakan mulai membelakangiku, menerpanya lantas berganti pada suatu kedinginan yang menusuk.
Ketahuilah, Kawan. Aku yakin, disetiap bahagia yang kita punya akan terselip duka. Walau sekecil atom. Pun sebaliknya. Semesta tak ada yang bisa memungkiri. Terkadang, aku begitu suka merapal peribahasa kuno Cina. YING DAN YANG.

Nikmat Idul Adha

Selamat berbahagia, dan selamat menikmati Hari Raya..
Sepertinya aku sungguh tak ingin melewatkan setiap apapun yang kurasa dengan torehan tinta hitamku. Tanpa kecuali untuk nikmat hari ini. Takdir memang tak pernah lepas dari dugaan insan Ilahi. Takdir yang kumiliki bukan sebab aku mimpi bahagia malam lalu. Bahkan aku lupa, apa aku semalam benar mimpi indah? Ah itu bukan hal utamanya.
Pagi sekali aku mengantar adik satu-satunya dalam rumahku berangkat sekolah. Dengan segenap kuat dan sisa kantuk akibat begadang, aku beranjak mandi. Hatiku masih dingin. Perpaduan yang menarik untuk air yang juga tak kalah dingin pagi ini. Coba meneriaki tubuhku dengan diam dalam hati. Parahnya lagi, hawa dingin tak kunjung hilang, mereka bersatu menembus tulang-tulang tubuhku. Menjalarkan pada seluruh syaraf dan otot. Aku nyaris beku. Sigap, kuantar adikku dengan motor matic-ku. Dan.. Kalian tau? Jalan depan rumah begitu ramai dipenuhi lalu-lalang orang yang hendak ke masjid. Memang, karena rumahku yang hanya berdua puluh meter jaraknya dengan masjid besar.
***
Terburu sekali aku ke masjid karena memang terlampau siang. Aku memang ada sedikit masalah dengan yang namanya pagi. Iya, belum bisa bangun sepagi selayaknya orang-orang. Dari arah timur, aku melihat sesosok perempuan setengah baya sedang berjalan sendiri. Aku tak cukup kabur untuk gambaran di depanku. Dia temanku, teman masa kecil. Pasti, dia hendak ke masjid pula. Selesai memarkir motor dengan apik pada rumah belakang, kusambar mukena juga sajadah di kamarku. Tak luput juga untuk beberapa rupiah yang telah disediakan ibu. Bapak sudah berangkat, Ibu tak ikut sholat. Dan aku, kali ini, kali pertama ke masjid seorang diri. That's no problem. Di sudut jalan rumah, kudapati adamku sedang berdiri, tak bergeming. Sedetik aku kaget. Kulempar pandang pada dia, mata kami bertemu, juga sebaris bibir yang membentuk senyum. Riang sekali aku memandangmu. Kembali kuberjalan menuju pelataran masjid. Menjeja langkah dengan para muslim lainya. Tak ada altar di sana. Benakku mulai menerka-nyata. Dengan yakin, aku berbicara pada diriku sendiri. Dia tak mungkin di sudut jalan itu jika alasannya tak ingin bertemu aku. Subhanallah, mataku mulai berkaca-kaca. Peristiwa semalam nyaris membuat kami nelangsa. Saat dimana kita pada puncak rindu namun tak dapat bertemu. Pagi ini, dalam saksi alunan takbir, kami bertemu. Bagaimana mungkin aku mendustakan nikmatMu (lagi)?
Ketika aku menggelar sajadah, aku menemukan nikmat lagi. Kalian pasti tidak lupa kan, tentang seorang perempuan yang sempat aku singgung di atas? Dia temanku, tak sengaja aku mendapatinya tepat berada di sof depanku. Bagaimana pula aku tak mengenali wajah seteduh dia, bila hampir dua puluh tahun kita berteman tanpa jeda? Memang setelah kita sama-sama beranjak dewasa, kedekatan mulai renggang, tali persahabatan sudah terbukti lusuh nan usang. Tapi aku yakin-aku harap kamu juga demikian-kebatinan kita sedang berkeras dekat. Aku menangkapnya dari sebait tutur yang kamu ucap padaku saat itu. Ada ketulusan bersinergi dengan suaramu. Masih pada lantunan takbir, saksi hidupku bertugas. Pelan kupejamkan mata, membiarkan segenap hati mengurai nikmat ini. Sungguh Allah, segalanya tiada tara.

Perihal buruk yang kurasa

    Pukul 15:40 ponselku berbunyi. Ada dua pesan baru masuk. Pesan pertama dari teman kampus yang bisa langsung aku tebak; sms perihal lelaki idamannya. Pesan baru yang lain dari nomor yang sedetik itu juga mampu membuatku terperangan. Nomor tak asing yang membuatku berfikir asing, ada apa gerangan tetiba sms aku? Sedetik itu, waktu seakan berhenti. Tubuhku memaku bersama bumi. Mematung bergeming. Senada dengan itu, aku bersama adikku sedang begitu khusuk menonton film dalam tempat peraduan (baca: kamar). Dan lantas aku menyapu pandanganku dari layar laptop beralih pada layar ponselku. Ya, pesan kedua dari orang itu. Orang yang sangat tak kuharap kehadirannya di kehidupanku. Sekian detik aku membaca pesan darinya. Pesan yang tidak singkat, sama seperti sesuatu yang dia bicarakan dalam pesannya. Rumit. Nafasku sesak, degup jantungpun mulai tak bertugas seperti selayaknya. Di pipiku mulai terlahir sungai kecil dari sela kelopak mataku.
   Seseorang wanita, yang sama sekali tak pernah terlihat oleh optik mataku bagaimana wajahnya. Seorang wanita yang sudah tiga bulan belakang ini mengganggu kestabilan sensor gilaku. Dia datang kembali. Bahkan aku yakin selama waktu yang tak kutentukan, dia akan terus berdiri tepat di belakangku. Berupa bayangan. Fikiranku mulai berotasi mencari ingatan tentangnya. Berdiri atas nama kebenaran, menurut dia. Tapi tidak menurutku. Seseorang yang datang dari masa gelap seseorang yang aku beri nama pasanganku. Saat menulis inipun, peluhku tak jua ingin kering. Air mata melaju deras melewati kedua pipiku, lantas jatuh tertambat pada bantal. Aku masih begitu sadar dalam kewarasanku, ya asik memikirkan wanita itu dan segala tingkahnya yang tak henti mengusik hidupku. Memang, aku masih kerap berdarah. Tulang-tulangku entah tinggal berapa yang tak patah. Aku mencoba memakamkan dia dalam ingatanku. Senyata itu juga, dia tak akan bisa pergi. Mungkin, yang ini aku harus berucap baik pada Tuhan yang telah memberi daya ingat terkuatku atas dia. Walau pada artinya, yang aku artikan sendiri bahwa ingatan ini buruk. Sekali lagi menurutku. Tapi aku sudah berjanji dalam diriku, aku tak boleh lemah, ini ujian untuk kekuatanku. Yakinku, Tuhan pun tak akan pernah mengabaikan makhlukNya yang satu ini. Menengadahkan kepala, menatap langit kamar juga suara deru kipas angin. Aku masih selalu ingat kekata seorang teman SMPku; bahwa serapuh apapun kamu sebagai wanita, Tuhan akan selalu memuliakanmu. Keburukan itu serupa kebaikan yang belum sampai pengertiannya, bukan? Yang terkasih juga selalu bilang, percayalah atas kekuatan sang maha cinta. Sibuk menyejajarkan iktikad, perihal lebih kuasa mana, cinta kita atau kata-kata usang wanita itu. Aku mulai memasukkan semangat-semangat terkuat dalam tubuhku. Memaksa semangat itu masuk memenuhi segala ruang, tanpa menyisa se-mili-pun ruang untuk rasa buruk ini.


Sejumlah pertanyaan yang tak sanggup kujawab

"Sudahlah urusan ini belum akan tertuntaskan meski hari telah berpindah ke hari lain, Sayang".
Begitu aku berkata pada teman hidupku yang sedari malam tadi-entah ada angin apa ingin membahas tentang sesuatu yang bernama bayangan-menginginkanku menemani topik yang ingin dia buka segalanya. Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam. Aku sangat tau, dia hari ini-yang meski hari Minggu tetap sibuk-terlampau lelah demi setubuh dia yang tak inginkan mengambil istirahat dan beranjak pada kegalauan hatinya.

Kami berinteraksi via BBM. Mungkin aku bisa kasih judul; komunikasi jarah jauh. Iya, saya yang sedang di perantauan dan dia yang berada di rumah menunggu saya dengan segala kesetiaan yang aku yakinkan pada diri sendiri bahwa dia memang setia. Meyakinkan diri seteguh rasa percayaku pada dia. Setia. Bukankah itu memang suatu pekerjaan tanpa syarat untuk sebuah hubungan yang terangkai hampir lima tahun? Oke kita lanjut!

Aku hanya tak habis fikir, akhir-akhir ini kekasihku sering bertanya tentang macam-macam sesuatu yang mungkin mesin mengolah dataku tak sanggup mengurai jawabannya saat itu juga sedetil yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan yang-mungkin lagi-menitikberatkan hal yang belum jelas muaranya. Seperti yang aku kutip di atas tentang suatu 'bayangan'. Dan kalian bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Sederhana, aku kehabisan peluru untuk memutar-balikkan semua pertanyaan dia. Alasan lain lagi, dia terlemparkan keras sekali dalam ketidakmengertian yang memangkas syaraf-syaraf kewarasan. Tapi saya juga yakin, dia memiliki alasan yang kuat atas kegilaan dia malam ini. Kemudian saya hanya bisa berucap "segala pertanyaanmu akan terjawab pada waktu. Sabarlah, waktu tak akan berhenti seketika ini hanya karena tak mampu menjawab sejagad tanyamu" itu pesan terakhir yang kuberikan padanya sebelum akhirnya tubuh kecilku dengan sisa tenaga, memintaku mengakhiri obrolan ini hampir pukul satu dini hari. Alasan khususnya; saya ingin adil pada tubuh untuk memberikan dia istirahat secukup waktuku.

***

Ingin rasanya memejamkan mata ketika tidur terasa kurang. Alarm pada ponselku berbunyi. Tak ada yang terlupa. Iya, semalam aku telah sett tepat pukul tiga untuk kembali memberi hajatan pada perutku demi menunaikan puasaku Senin ini. Lepas mengumpulkan nyawa, aku beranjak meninggalkan kasur. Dua roka'at Tahajud cukup mencipta sedikit semangat untuk makan. Kita lihat saja, takdir memiliki variasi klimaks untuk segala keadaan yang tanpa kita duga. Itulah mengapa Tuhanmu juga Tuhanku juga Tuhan kita yang menjaga ketidakjelasaanNya atas segala pengetahuan setinggi apapun kita untuk kemudian berkata "Oh jadi ini kenyataannya". Kalian pasti setuju!

Santap sahurku ditemani dengan tiga adik kosanku yang tak sengaja juga puasa untuk hari ini. Tak sengaja kedua; kita semua bermenukan mie instan. Oh Tuhan! Ini masih tanggal muda, kan? So? Memang tak ada hubungannya. Kita semua belum ada yang mencari uang sendiri. Hanya sebab menu makanan tak ada yang cocok kemudian pada opsi terakhir tertambat pada mie instan. Yang terpenting bukan menu, tapi kekuatan untuk sehari penuh itu. Ah, sudahlah lupakan!

Aku belum memakamkan ingatan pada masalah diskusi semalam tadi bersama-ya kalian tau lah-dia. Aku hanya berharap, untuk dia agar tidak terlalu terbanyang pada satu banyangan yang kataku masih abu-abu tanpa jelas itu. Hampir pukul lima pagi. Menyadarkanku untuk kembali menyanyangi tubuhku. Hari ini tak ada kuliah.

Tuban, 6 Oktober 2013