Pukul 15:40 ponselku berbunyi. Ada dua pesan baru masuk. Pesan pertama dari
teman kampus yang bisa langsung aku tebak; sms perihal lelaki idamannya. Pesan
baru yang lain dari nomor yang sedetik itu juga mampu membuatku terperangan.
Nomor tak asing yang membuatku berfikir asing, ada apa gerangan tetiba sms aku?
Sedetik itu, waktu seakan berhenti. Tubuhku memaku bersama bumi. Mematung
bergeming. Senada dengan itu, aku bersama adikku sedang begitu khusuk menonton
film dalam tempat peraduan (baca: kamar). Dan lantas aku menyapu pandanganku
dari layar laptop beralih pada layar ponselku. Ya, pesan kedua dari orang itu.
Orang yang sangat tak kuharap kehadirannya di kehidupanku. Sekian detik aku
membaca pesan darinya. Pesan yang tidak singkat, sama seperti sesuatu yang dia
bicarakan dalam pesannya. Rumit. Nafasku sesak, degup jantungpun mulai tak
bertugas seperti selayaknya. Di pipiku mulai terlahir sungai kecil dari sela
kelopak mataku. Seseorang wanita, yang sama sekali tak pernah terlihat oleh
optik mataku bagaimana wajahnya. Seorang wanita yang sudah tiga bulan belakang
ini mengganggu kestabilan sensor gilaku. Dia datang kembali. Bahkan aku yakin
selama waktu yang tak kutentukan, dia akan terus berdiri tepat di belakangku.
Berupa bayangan. Fikiranku mulai berotasi mencari ingatan tentangnya. Berdiri
atas nama kebenaran, menurut dia. Tapi tidak menurutku. Seseorang yang datang
dari masa gelap seseorang yang aku beri nama pasanganku. Saat menulis inipun,
peluhku tak jua ingin kering. Air mata melaju deras melewati kedua pipiku,
lantas jatuh tertambat pada bantal. Aku masih begitu sadar dalam kewarasanku,
ya asik memikirkan wanita itu dan segala tingkahnya yang tak henti mengusik
hidupku. Memang, aku masih kerap berdarah. Tulang-tulangku entah tinggal berapa
yang tak patah. Aku mencoba memakamkan dia dalam ingatanku. Senyata itu juga,
dia tak akan bisa pergi. Mungkin, yang ini aku harus berucap baik pada Tuhan
yang telah memberi daya ingat terkuatku atas dia. Walau pada artinya, yang aku
artikan sendiri bahwa ingatan ini buruk. Sekali lagi menurutku.
Tapi aku sudah
berjanji dalam diriku, aku tak boleh lemah, ini ujian untuk kekuatanku.
Yakinku, Tuhan pun tak akan pernah mengabaikan makhlukNya yang satu ini.
Menengadahkan kepala, menatap langit kamar juga suara deru kipas angin. Aku
masih selalu ingat kekata seorang teman SMPku; bahwa serapuh apapun wanita,
Tuhan akan selalu memuliakanmu. Keburukan itu serupa kebaikan yang belum sampai
pengertiannya, bukan? Yang terkasih juga selalu bilang, percayalah atas
kekuatan sang maha cinta. Sibuk menyejajarkan iktikad, perihal lebih kuasa mana, cinta kita atau kata-kata
usang wanita itu. Aku mulai memasukkan semangat-semangat terkuat dalam tubuhku.
Memaksa semangat itu masuk memenuhi segala ruang, tanpa menyisa se-mili-pun
ruang untuk rasa buruk ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar