Tentang
sederet aksara pemikiran yang mencoba menerobos daya ingatku. Mungkin kamu,
sekarang yang menjadi seseorang terindah telah bertempat dalam separuh tubuh ini.
Detak dalam detik di dalam tempat peraduan terindah dalam kamar, aku mulai
merangkum. Pikiranku mulai mengingat scenario hidup bertahun silam. Ketika kita
yang tak saling kenal, tak menyangka menemukan takdir hidup ini dalam suatu
keindahan. Keindahan yang kita berdua rasakan sebagai panjatan syukur pada sang
maha hidup yang telah menurunkan segala baik dalam tubuh makhluk-Nya ini. Saya
masih ingat betul, kamu yang dulu tak sama dengan kamu yang sekarang. Saya
masih heran atas kekata seseorang dengan bunyi “saya masih seperti yang dulu”.
Sering berfikir, mereka yang mencipta kalimat lugas itu apa tak bisa
membayangkan? Bahwa sesungguhnya-seperti yang dulu-itu tak benar baik didengar
maupun diucapkan. Semoga kalian yang membaca ini sepakat denganku. Sekarang aku menemukanmu jauh sangat baik dari
dulu kita awal bertemu. Bertemu dalam sebuah arti pendekatan. Kamu mampu
membentuk hidupku menjadi hidup. Pun hidupmu, tentunya.
Sebenarnya
saya sedikit merasa terperangah, takut jika sebait pujian di atas dapat
melahirkan suatu ujian untuk kita dan terutama bagi diri kamu sendiri, Sayang.
Kamu tau tidak? Kadang dari mata kita bisa melihat segalanya. Selama bertahun
ini, aku sering meraba menemukan banyak mata berkunjung pada hubungan kita.
Betapa merasa bahagia ketika melihat mereka meng-amin-i aku dan kamu. Doa terindah
juga terbaik selalu aku panjatkan kepada Tuhan kita supaya pada bejana waktu
terbaik kita akan menjadi sesuatu yang disatukan dalam manunggal jiwa yang
lebih agung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar